Peluncuran New Daihatsu Terios beberapa minggu yang lalu, PT Astra Daihatsu Motor (PT ADM) sebagai produsen mobil Daihatsu, menjelaskan bahwa ada banyak perubahan di dalam tubuh ini SUV kecil. “Meskipun bentuk eksterior dan mesin masih menggunakan versi lama, tapi ada beberapa perbaikan yang kita lakukan,” kata Amelia Tjandra, Direktur Pemasaran ADM.

Perubahan yang memang terbatas facelift Daihatsu baru dan perubahan kecil. Penyegaran mulai dari grille, kali ini horizontal berlapis ornamen bermotif. Kemudian, bumper yang melengkung ke atas. Diikuti oleh perubahan desain sebelum roda 5-berbicara ke kisi multi. node Stoplamp dipilih sebagai pengganti lampu belakang merah sebelumnya transparan. Sementara bumper belakang tidak menonjol dan masih memiliki reflektor.

Masuk ke kabin, terlihat perubahan warna dan motif. Pusat cluster, terutama jala AC, dijadikan sebagai garis terlihat antara hak dan tingkat kiri. Rincian perubahan lain, yaitu panel instrumen, tuas persneling, kursi adjuster, kontrol audio, kotak konsol tengah, dan komposisi tempat duduk baris ketiga untuk 50:50. Selain itu, kursi baris kedua tuas tuas mengadopsi gerakan satu kali lipat.

Karena perubahan itu, PT ADM mengundang wartawan Homeland pengalaman mengemudi di Jogjakarta. Rute ini dikemas dalam tiga lokasi yang berbeda. Mulai suasana kota Jogja, Pantai Parang Kusumo, sampai Kaliurang (jalan berkelok-kelok di lereng Gunung Merapi). Pada kesempatan itu, kami menguji dua varian Terios, TX TX MT dan AT.

Ketika di belakang kemudi Terios TX, baik versi manual atau otomatis, perubahan yang paling mencolok berada di putaran roda ringan. Hal ini berkaitan dengan penggantian perangkat power steering hidrolik menjadi versi EPS (elektronik power steering).

Secara teknis, fitur ini lebih praktis ketibang versi hidrolik. Pasalnya, saat mesin hidup dan kemudi tidak, maka tidak ada energi yang diambil dari mesin atau baterai. Kebalikan dari sistem hidrolik, dimana pompa dihubungkan langsung ke mesin. Artinya, ketika mesin hidup, pompa hidrolik power steering tetap berputar, walaupun roda kemudi tidak digerakkan.

efek ringan semakin terasa roda kemudi saat parkir atau manuver mobil di garis padat di crawl perkotaan. Bantuan tapak roda lebih kecil dari saudaranya, Toyota Rush (235/60/16R vs 215/65/16R), 7-seater MPV mampu bergerak cepat.

Sayangnya, sehingga kemudi terlalu ringan, sedangkan melaju menuruni saat lin-tasan berkelok-kelok, roda kemudi terasa “mengambang”. Akurasi dari roda kemudi baru merasa lebih baik ketika mobil melaju di atas 140 kpj. Hal ini dirumuskan oleh ADM untuk gerak kemudi tidak terlalu sensitif yang berimbas pada mobil hanya perubahan arah.

Pemasangan EPS juga mempengaruhi kinerja mesin cahaya. Jika Terios Lama “terengah-engah” untuk mencapai 120 kpj, kali ini tidak ditemukan di Terios baru. Namun, karakteristik akse pedal-lerator tidak terlalu responsif. Jadi, injak pedal perlahan dan bertahap.

Versi manual menyajikan kinerja yang baik. Dibantu oleh penyusunan gigi, mobil ini terasa cukup gesit dari versi otomatis. Bagi saya, model otomatis lebih cocok untuk perjalanan santai. Oleh karena itu, tanggap kick-down tidak terlalu menggigit.

Daihatsu juga cukup cerdas untuk mengubah sudut shock absorber titik mount dan seri musim semi. Akibatnya, redaman suspensi cukup empuk. Sayangnya, ditambah tidak punya ke kursi baris ketiga. Juga, ruang kaki dan kepala kamar di posisi ini juga tidak sangat nyaman untuk orang rata-rata bertubuh.

Pencarian Kata Kunci Untuk Artikel ini :


Categories: Daihatsu Terios   |  Posted on
Tags: , , ,

comments

Leave a Comment

Your Rating:
0 1 2 3 4 5

*